Musim panas Cairo, Agustus 2009.
Udara sudah mulai bercampur,angin yang normalnya menghembuskan kesejukan saat ini berbeda, ia menghembuskan panas pada punuk yang diterpa. Sehingga tak heran kebanyakan manusia lebih memilih berada dalam rumah ketimbang merasakan oven alami. Walhasil kipas angin menjadi suatu barang yang “most wanted” di saat seperti ini. Sambil rebahan kipas angin diputar, ritual siang hari yang jarang dilewatkan.
Nama gue Abduh, sebenarnya ini adalah nama mesir gue, kalo nama aslinya Dude Rahaniawan Putra. Memang sih kelihatanya seperti ganti nama, Abduhkan ngga ada dari tiga rangkaian nama gue, Dude engga, Rahaniawan apalagi, Putra ngga nyambung2 acan, Putra ko jadi Abduh. Abduh itu sengaja gue pilih biar pas kenalan sama temen mesir di kuliah gampang . soalnya orang mesir pada susah kalo melafalkan nama-nama orang Indonesia. Kata kaka kelas gue sih.
“ Uh udara nya Bikin sesak nih,” keluh Abduh seraya beranjak dari tidurnya. Langkahnya menuju kipas angin yang berputar pada pengaturan sedang. Nampaknya harus aku besarkan volume putaranya. Dan ada hasilnya, udarpun mulai tidak terlalu sesak , jadi agak lebih segar.
“ uih panasnya dinding ni “ spontan Abduh memindahkan sandaranya dari dinding. Kebetulan letak Flat Abduh berada paling sutuh (lantai paling atas). Sehingga Matahari di siang harinya dengan leluasa memanggang dinding luar flatnya, dan panasnya tersimpan dibalik pori-pori dinding itu sampai malam hari.
“Ah lebih baik aku ambil Air wudhu saja, dan langsung ke Masjid “, pikir ahmad seraya mengambil handuk yang tergantung di tepian ranjang. Dan, “ aww!! Air pun tak sejuk dibuatnya, panas pun “ seru ahmad sambil membatalkan guyuran kedua di mukanya, dan mengelapnya dengan handuk.
“syeishhhh.!! Air mengucur dari keran. Sengaja Abduh menampung air panas itu dalam bak-bak kamar mandinya. Ide ini ia dapatkan dari kakak kelasnya, supaya panasnya hilang ia biarkan air itu dalam tampungan supaya menguapkan panasnya. Otomatis ia tak bisa berwudhu saat itu di flat.
Akhirnya Abduh lebih memilih langsung pergi masjid. Kebetulan masih ada waktu ke Shalat Ashar sekitar 15 menitan lagi. Air di keran-keran tempat air Wudhu di Masjid biasanya dingin. Abduh lebih memilih pergi ke Masjid Mustafa, disamping kipas anginnya yang banyak, “bisa Istirahat sejenak” pikir abduh. juga dispenser. Kebetulan lagi ingin minum air dingin. Di flat belum sempet masukin air minum ke Kulkas.
Masjid memang menjadi tempat yang sangat sejuk pada musim panas ini. Fasilitas masjid yang dipenuhi kipas angin “ Helikopter “ memang sangat membuai para jema’ahnya untuk berlama-lama di masjid di siang hari, apalgi yang ber-AC. Abduh terlihat sedang rebahan dan menerawang ke ujung lubang Kubah dalam Masjid Mustafa. Burung-burung gereja beterbangan didalamnya,terbang sana terbang sini. Terlihat kumpulan burung itu berebut batang padi yang kan mereka anyam jadi kandangnya.
“ Wah Muhammad sebentar lagi akan tiba di mesir “ ingat ahmad sambil menerawang. “ Apa dia bakalan kuat ya menghadapi suasana dan cuaca seperti ini “ bisik ahmad dalam terawanganya. Muhammad adalah kawan akrabnya yang tertinggal pergi ke Mesir , dia mendapat masalah dengan visanya, sehingga ia tidak bisa pergi bersama rombongan.
------********-------
Setelah 2-3 minggu bolak-balik di Embassy Egypt yang ada di Jakarta, akhirnya Muhammad mendapatkan apa yang selama ini ia harapkan..
Visa,
Ya, visa,,dengannya ia bisa menaruh harapan hati&hari depannya di negeri Kinanah ini. Sore itu, beda dari sore-sore sebelumnya, tepatnya sore 17 Agustus dua ribu sembilan. Abduh harus bergegas menuju terminal arrival Cairo Airport bersama ketiga temannya, karena teringat pesan sahabatnya yang telah memberikan warning agar ia menjemputnya saat ia tiba di bandara Cairo, tepatnya Muhammad bakalan landing pukul 16.30 WK.
Muhammad adalah sahabat Abduh yang pernah ia temui di pondoknya dulu, Sosok yang supel, gampang bergaul, easy going dan penuh inspirasi. Jam 17 lebih dikit Ahmad bersama ketiga temannya sampai di terminal 2, walaupun sebelumnya sempat salah alamat karena mereka diturunin sama supir taksinya di terminal 3, dengan terpaksa mereka akhirnya naik bis yang tersedia menuju teminal 2.
“Kuwait Airways landed”,
“Kuwait Airways landed”, semua monitor yang tergantung di pinggir-pinggir bandara menuliskan otomatis kata-kata tersebut.
“ Wah..kalo gitu udah nyampe tuh si Muhammad” ujar si Mahmud teman Muhammad yang juga teman Muhammad pas di pondok dahulu kala,,
“ iya bener, buruan ntar dia kebingungan,.kasian Abduh pun menyahut.
Muhammad nampak melambai-lambaikan tangan di pintu arrival, wajah, gaya serta jalanya masih sama seperti dulu yang gue kenal. “ Noh dia si Muhammad.. ha ha ha!! Masih kayak dulu dia “ teriak Abuy sembari menjemput Muhammad yang semakin mendekat.
“ Wah Gimana kabar Lu semua Sob?? Tanya Muhammad dengan gayanya yang khas dan akrab di telinga kami.
“ Ah lu masa ngga liat kita ? kalo sakit mah ga jemput kesini kali, jangan basa-basi cepat keluarkan oleh-olehnya” sahut Hikam dengan nada serius tapi mimiknya membuat orang ngakak.
“ha ha ha ha..!!! kami semua tertawa sambil beranjak menjauhi pintu Arrival.
------********-------
Sejak keluar dari bumi pertiwi&menginjakkan kakinya di negeri rantauan,Muhammad ingin sekali mengulang perjuangan Abi nya. 22 tahun yang lalu, Capek, lelah, penat, perlu&wajib serta butuh yang namanya kesabaran, itulah yang menjadi buah bibir abinya kepada anak pertama beliau.,Muhammad.sekaligus menjadi motivasi internal bagi diri seorang Muhammad,
11 tahun waktu belajar yang ia(abinya) tempuh bukan waktu yang sedikit,bukan juga waktu yang Lama,bagi para gamer,fesbuker,dan chattinger,,-abinya Muhammad mulai belajar di mesir ketika ia menginjak bangku Tsanawiy sampai ia terhenti tamhidi 2 ,karena belum tercapai nilai yang shofii,untuk bisa tereleminasi dari persaingan sekelasnya. Al-Azhar,-sejak diberi gelar Asy-Syarif telah mampu mencetak kader dan ulama-ulama yang bisa diperhitungkan dedikasinya,,S2 terasa begitu berat lain Lc,lain Ma, padahal ia hanya tinggal ‘Menulis. Tok.
Namun tak terhenti disitu, meski beliau belum bisa mengkhatamkan study megisternya beliau tetap terus mencari ilmu di lain tempat,.baginya mesir bukan satu-satunya tempat buat tholabul ilmi. Tanah air.. kepulangan beliau ke tanah air tidak hanya pulang dengan tangan kosong, Ilmu yang beliau dapatkan di Azhar beliau bagi-bagikan buat membina keluarga&masyarakat di sekitar Kemiling,,Lampung - seberang pulau jawa. Indonesia.
“ hrggg..” Abduh menggeram. Dua puluh dua tahun yang lalu, saat semua masisir masih berpenampilan ‘ala kadarnya’, di saat bis 60 coret tertulis 10 qirys bas, saat semua nya belum banyak perubahan dan..
bangunan KBRI pun tak nampak seperti sekarang, saat masisir belum banyak yang menyibukkan diri dengan stik winning PS dengan kedua tangannya, saat masisir belum banyak yang ‘isytirok’ buat internetan hilir mudik di dunia maya. Saat komunikasi begitu berharga, ketika petugas kantor Pos masih sibuk menjalankan aktifitasnya, karena hanya dengan surat kabarlah keluarga di Indo bisa terdengar, bukan dengan Voip yang dengannya kita bisa langsung ‘Mubasyaroh’-‘Ala thuuL’ terhubung ke HP Mama,dan Baba kita di kampung halaman.
Sungguh terlalu..
Kadang orang ga terlalu interest buat mendengarkan kisah klasik orang lain, Gallery masa silam tidak perlu di bahas dan di ubek-ubek diceritakan kembali. Begitu mungkin sebagian terbersit diantara mindset kita, Tapi cobalah sedikit memflash back hidup kita sendiri.
“Yupz..!!!, Anis Matta pernah bilang:
“ Kita harus bisa mensikapi masa lalu kita secara adil, arif dan proporsional. Berhenti mengadili masa lalu tapi tetap menjadikannya sebagai inspirasi bagi masa depan kita," katanya.
Suatu saat, ditempat yang sunyi terucap rangkaian kata,
‘Kematian,..
Jodoh,,,,
Rizki, semua di tangan Tuhan
Rahasia itu hanya Engkau yang tahu,,
Ya Rabb..Subhaanaka innii kuntu minadzoolimiiin’
‘ Begitulah keluh kesah yang tergetar lewat sentuhan bibir Muhammad’
“ Semua memuji-memuja Asma-Mu ya Rabb, tunduk berharap cinta dan kasih-Mu…
Jangan salahkan Dia kalau kita mati belum sampe ‘’aLaa Syahaadati fii SabiiLik’’.!
Jangan Salahkan Dia kalau kita mendapatkan pasangan hidup tak seshaleh/ah yang kita idamkan, yang kita harapkan, yang ‘diantos-antos’ !
Jangan salahkan Dia kalu kita seret buat dapet rizki, belum & sulit mendapatkan pintu dari pintu-pintu Rizki-Nya..!!”
Saat-saat di pondok, mungkin bagi sebagian orang jadi saat-saat yang penuh dengan kenangan, kenangan-kenangan manis, pahit, asem & sepet campur aduk meresap jadi satu,.
Saat mendengarkan obrolan, sentuhan kalam yang penuh makna dari asatidz & asatidzah, petuah berharga yang mereka sampaikan, cacian&makian kasih sayang ustadz sama santri-santrinya yang kadang membuat bete dan kesel si target.
Kabur dari pondok, bolos masuk kelas, di kejar satpam, ngambil makanan dari lemari teman,
Pemandangan yang ga asing lagi di mata sebagian mantan santri,,
Ga’ kerasa hidup di pondok, terlalu singkat..tapi tak lebih singkat waktu yang terus berputar di bumi Kinanah ini, serasa di jama’, bulan kemarin ga jauh beda dengan bulan sekarang,,Haakadza..
Begitu cepat..
Ooh,..
Duhai pemilik waktu..”Laa taj’alnaa minal khaasiriin..!”
Kita mendengar berita, melihat peristiwa. Tentang apa saja .,yang menyenangkan atau tidak, yang kita inginkan atau tidak. Tapi bukan itu soalnya. Sebab kita adalah murid alam.para petualang. Kita hanya melayani rasa cinta kita pada alam, pada hidup, pada Tuhan, maka kita terus bergerak dengan kesadaran yang membimbing kita untuk terus-menerus “mencari”..menemukan hal yang kita sendiri sebenarnya tak pernah tau wujudnya, baunya, warnanya, rasanya. Tapi tak soal, bukan? Sebab kita adalah para petualang yang tak pernah mengenal kata “berhenti” atau “sudah” untuk sebuah perjalanan mencapai “rumah cinta”—rumah Kesejatian………..
Inspired by.Ust.Hilmuddin Sulanie Lc. DipL
Semoga semangat itu terus hadir,.
Read more...